Om Awighnam Astu namo siddham,
Om Swastiastu,
Hari Raya
Nyepi dilaksanakan setiap menyambut Tahun Baru Caka. Sehari sebelum
pelaksanaan Nyepi yaitu pada Tilem Kesanga selalu diawali dengan Tawur
Kesanga, melaksanakan kurban suci demi menjaga keseimbangan alam
semesta. Tentunya hal ini tidak terlepas dari hubungan yang erat antara
Buana Agung (Alam Semesta) dengan Manusia (Buana Alit).
Keseimbangan
antara Buana Agung dan Buana Alit benar-benar harus terjaga karena
manusia sangat tergantung kehidupannya kepada alam. Makna kurban suci
bukan hanya sebagai perwujudan dari rasa bakti umat kepada Sang
Pencipta, akan tetapi juga sebagai perwujudan niat baik untuk tetap
melestarikan ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Niat baik ini
perlu ditumbuhkan dan selalu dimaknai dalam kehidupan sehari-hari dan
bukan hanya dalam hal sewaktu menghaturkan kurban suci saja.
Menghaturkan kurban suci itu adalah suatu ritual, tetapi makna yang
lebih mendalam haruslah tercermin dalam setiap langkah perbuatan
(Karma). Keseimbangan harus terjadi secara vertical dan juga horizontal untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian semesta.
Unsur
Panca Maha Butha dalam diri manusia sama dengan unsur Panca Maha Butha
yang ada dalam semesta. Manusia satu dengan manusia lainnya demikian
juga halnya. Apabila kita menumbuhkan sikap negative dalam diri kita,
tentulah akan terjadi benturan dengan yang lain, demikian sebaliknya
apabila kita menumbuhkan sikap positif maka persatuan seluruh umat akan
tercipta yang berakhir dengan kedamaian dan kebahagiaan untuk semua.
|
Pratima adalah symbol-symbol
suci yang dapat dilihat dengan kasat mata dan melibatkan tangan manusia
dalam pembuatannya. Sedangkan Jiwa Suci adalah ciptaan dan bagian dari
Brahman yang ada dalam setiap diri manusia. Kalau Pratima itu bisa kita
bersihkan, mengapa kita tidak berpikir dan berbuat untuk membersihkan
diri kita dari perbuatan-perbuatan dosa yang akhirnya mengotori kesucian
Sang Atman? Marilah kita berusaha untuk menyadari hal ini. Bukankah
lautan yang luas dan sumber air sudah ada dalam diri kita. Mengapa tidak
kita lakukan penyucian untuk Sang Jiwa? Penyucian diri tidak harus
menentukan kapan waktunya dan dimana tempatnya. Lakukan kapan saja dan
dimana saja, dengan pikiran yang hening dan diimbangi dengan
perbuatan-perbuatan berdasarkan Dharma.

Upacara
me-buu-buu dengan menyalakan obor, memukul kentongan, memukul-mukul
tanah dengan kayu atau pelepah kelapa sebagaimana kita ketahui adalah
dimaksudkan untuk mengusir Butha Kala atau sejenis yang suka mengganggu
kehidupan manusia. Makna yang lebih mendalam lagi tidak hanya sekedar
upacaranya, tetapi perlu kita sadari bahwa Butha Kala itu juga ada dalam
diri kita. Kita akan dirasuki oleh sifat Butha bila kita tidak memegang
teguh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa dan ajaran-ajaran suci
yang telah diturunkanNya.
Butha
Kala selalu mengganggu dan akan merasuki setiap orang yang tidak kuat
imannya atau bahkan tidak beriman sama sekali. Sifat-sifat Butha akan
tampak dalam diri manusia apabila orang tersebut keluar dari jalur/rel Dharma.
Kemanapun, dimanapun, dan kapanpun, Butha itu selalu menyertai kita.
Hal ini tampak dalam perilaku kita sehari-hari yang setiap saat dapat
berubah pikiran dalam sekejap untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak
baik, mengkhianati kata hati nurani, menghkhianati kebenaran. Butha
adalah gambaran dari hawa nafsu, keinginan yang tidak terkendali.
Meskipun
hati nurani selalu mengingatkan kita, bisikan dari Butha sangat sering
mengalahkan daya pikir manusia yang cenderung untuk mendapatkan sesuatu
secara gampang, tidak memperhatikan kepentingan orang lain dan
lingkungannya, dan mau menang sendiri. Ego manusia bisa melebihi sikap
kejam perilaku binatang yang tidak memiliki anugerah “Idep” (pikiran).
|
Nyepi
memiliki makna yang sangat mendalam, tidak hanya sekedar menyambut
datangnya Tahun Baru Caka, bukan hanya sekedar melakukan Tawur Kesanga.
Nyepi membawa makna dalam diri setiap insan manusia. Dengan menyambut
Hari raya Nyepi, kita selalu diingatkan untuk bercermin diri, melihat
diri kita sendiri, sudah sejauh manakah kita melangkah, sudah benarkah
langkah yang kita ambil dan lakukan, sudahkah perbuatan kita berguna
untuk diri sendiri dan juga untuk umat manusia yang lain, untuk
lingkungan sekitar kita. Apa yang akan kita lakukan setelah memasuki
tahun yang baru? Apakah tetap seperti tahun kemarin, apakah berniat
untuk berubah menjadi lebih baik, atau tidak berbuat apa-apa sama
sekali?
Seharusnya
kita sadari benar, bahwasanya Karma yang kita buat tidaklah bisa kita
nilai sendiri seutuhnya dengan pikiran seperti pelajaran berhitung.
Karma baik tidaklah harus dihubungkan dengan pahala yang baik. Berbuat
baik haruslah dilandasi dengan ketulusan tanpa berharap sedikitpun
tentang imbalan. Cukuplah kita berbuat baik, tidak perlu untuk
diingat-ingat lagi ataupun diceritakan kepada orang lain bahwa kita
telah ber-Karma baik. Sudah sepatutnya sebagai manusia yang ber-iman
kita selalu menghias diri dengan kebajikan-kebajikan.
Pada
hari Raya Nyepi yang suci dan damai ini, marilah kita merenung untuk
menatap ke depan, agar selalu dan selalu dapat berbuat amal kebajikan.
Kejarlah kehidupan spiritual menuju kehidupan suci. Begitu banyak ajaran
suci yang telah kita tinggalkan, dengan semangat baru kita kembali
kepada wahyu suci. Marilah kita buka tabir gelap yang menyelimuti jiwa
suci dalam diri, tumbuhkan rasa cinta dan welas asih, yang pada akhirnya
akan menghantar kita menuju cahaya Nirvana.
I. BAGAIMANA MENYIKAPI NYEPI?
Ada
berbagai sudut pandang dalam hal menyikapi Nyepi. Untuk mudahnya, sudut
pandang tersebut dapat dibedakan antara yang bersifat fisik (skala) dan
non fisik (niskala). Secara awam sebagaimana diketahui, upacara Kurban
suci adalah merupakan rentetan awal dari penyambutan hari raya Nyepi,
Hal ini sudah berlangsung ratusan tahun semenjak awal hari raya Nyepi
dilaksanakan.
Secara
gamblang dari sudut pandang secara universal, upacara kurban suci
dimaknai sebagai perwujudan “bhakti” dari manusia kepada Sang Pencipta,
sebagai perwujudan untuk mendapatkan keseimbangan antara Buana Agung
(Alam Semesta) dengan Buana Alit (diri manusia).
Upacara
kurban suci dilaksanakan dengan meriah dan suka cita sebagai wujud
kebahagiaan untuk menyongsong tahun baru yang diharapkan dapat
memberikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah dicapai pada
waktu sebelumnya. Begitu banyak harapan-harapan yang diinginkan untuk
mendapatkan kebahagiaan bagi diri manusia.
Dari
sudut pandang non fisik (niskala) yang menjurus kepada sisi spiritual
manusia, Nyepi dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat spiritual dan suci
yang harus selalu dikembangkan dan ditumbuhkan dalam setiap jiwa
manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan kebahagiaan lahir
maupun batin.
|

A. TAPA
Untuk
kondisi saat ini yang sudah memasuki era modernisasi, sudah tidak
mungkin untuk melakukan Tapa sebagaimana yang telah dilakukan
orang-orang suci pada jaman dahulu. Melakukan Tapa tidak berarti kita
harus pergi ke hutan-hutan ataupun ke gunung-gunung. Tapa dapat
dilakukan di dalam kamar suci, tempat suci atau dimanapun kita berada
dan bisa menghadirkan kesunyian, kesucian, dan ketenangan dalam diri.
Lakukan Tapa dengan segenap kepasrahan diri kehadapan Yang Maha Kuasa,
bahwasanya beliau adalah merupakan Awal dan Akhir, tiada kekuatan lain
yang menandingiNya, dan semua terjadi adalah atas kehendakNya.
B. BRATA
Brata
dapat dilakukan kapan saja dengan suatu niatan suci. Brata yang paling
umum adalah dengan melakukan puasa makan (upawasa). Dengan melakukan
Brata, banyak manfaat yang didapatkan asalkan dilakukan dengan niat baik
dan tulus. Brata bisa bermanfaat untuk kesehatan dan juga untuk
pengekangan terhadap hawa nafsu. Dengan melakukan Brata yang benar,
badan kita dikembalikan pada posisi nol (netral) sedemikian hingga
metabolisme tubuh dikembalikan pada posisi asalnya. Dengan melakukan
Brata kita akan lebih mudah untuk mengendalikan sifat ego dan hawa nafsu
yang muncul dari pikiran yang tidak baik.
C. YOGA SEMEDI
Yoga
Semedi adalah tahapan kehidupan spiritual yang tertinggi, sebagaimana
dijabarkan dalam Catur Marga Yoga. Dengan melakukan Yoga Semedi, kita
berpasrah diri kepada Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta, melepas semua ego
dan nafsu yang ada dalam diri. Yoga Semedi adalah pengorbanan suci yang
tertinggi, sehingga harus dilakukan dengan sepenuh hati, penuh keyakinan
atas Kuasa-Nya. Tanpa berpasrah diri dalam melakukan Yoga Semedi,
mustahil akan didapatkan suatu hubungan spiritual yang suci kepada Ida
Sanghyang Widhi Wasa. Yoga Semedi memerlukan ketekunan, tidak bisa
diraih dalam waktu yang singkat, dan semua itu berpaling kepada diri
kita sendiri, sudah sejauh mana keyakinan kita.
Yoga
Semedi adalah ditujukan untuk mencapai keharmonisan rohani yang
dilandasi oleh Kesucian, tidak ada kekuatan lain, hanya semata-mata
Kesucian. Yoga Semedi bukan untuk menggali power/kekuatan-kekuatan
tertentu. Bila kita berpikir untuk mendapatkan kekuatan, maka niatan dan
makna Yoga Semedi sudah keluar dari jalur Dharma.
Yoga Semedi dilakukan untuk mendapatkan penyatuan diri/jiwa dengan Sang Pencipta/Brahman
yang akhirnya akan menghantar kita pada pencapaian Mokhsartham
Jagadhitam ya ca iti Dharma. Jadi sangat jelas Yoga Semedi dilakukan
untuk mendapatkan Spiritual Kesucian dalam segala segi aspek kehidupan.
Tiada kekuatan lain, murni hanya Kesucian.
II.
MENYINGKAP CAHAYA MENEMBUS KEGELAPAN, MENEROPONG JIWA YANG TERKUNGKUNG
MENYINGKAP CAHAYA MENEMBUS KEGELAPAN, MENEROPONG JIWA YANG TERKUNGKUNG
Begitu
mulia kita terlahir sebagai manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya
yang ada di dunia ini. Dengan kemuliaan tersebut sudah semestinya kita
sebagai manusia bisa menyadari bahwasanya Sang Pencipta telah memberikan
Kasih dan Sayang-Nya kepada kita. Akan tetapi kenyataannya, kita
teramat sering lupa, bahkan mengabaikan hal-hal yang semestinya menjadi
kewajiban kita sebagai umat Tuhan.
Kemuliaan
yang didapatkan sebagai anugrah, lebih sering terabaikan karena suatu
tuntutan dalam diri manusia yang dilandasi oleh ego dan hawa nafsu yang
tidak terkendali. Semestinya kita menyadari, begitu banyak masa lalu
kita yang terlupakan, bahkan terlupakan sama sekali. Karma yang telah
diperbuat pada masa lampau sudah terlupakan sama sekali. Hal ini
disebabkan oleh kabut gelap yang menyelimuti jiwa kita. Semenjak
dilahirkan, kabut awidya telah menyelimuti kita dengan gemerlap duniawi
yang terus mengkungkung jiwa.
Dalam
kehidupan nyata, Karma buruk gampang dilupakan dan Karma baik selalu
diingat-ingat. Hal ini terjadi karena sifat ego yang menguasai diri.
Perbuatan jahat beberapa menit yang lalu dengan segera ditutupi oleh
perbuatan baik yang pernah dilakukan bertahun-tahun yang lalu.
Dibanding-bandingkan, dihitung-hitung, ditimbang-timbang seolah-olah
bisa menilai sendiri takaran pahala yang akan didapat. Inilah cara
berpikir yang sesat dan akan menjerumuskan diri kita lebih dalam lagi ke
jurang dosa. Bila sudah demikian, Sang Jiwa sudah terperosok lebih
dalam lagi di kegelapan dosa.
Dengan
lebih memaknai hari suci, marilah kita berusaha untuk instropeksi diri.
Teropong diri kita sendiri. Hindari menimbang-nimbang perbuatan baik
atau buruk orang lain, karena bukan kita yang menentukan apakah orang
itu masuk Sorga atau Neraka. Lihatlah diri sendiri, sudahkah kita
berbuat baik. Berpikirlah, sudah seberapa jauh kaki kita terjerembab di
ambang neraka. Itu lebih baik agar kita selalu waspada dan menghindari
berbuat Adharma.
Bukalah
tabir diri kita, telanjangi diri kita sendiri dari perbuatan-perbuatan
Adharma. Ingatlah, Ida Sanghyang Widhi itu Maha Pengasih dan Penyayang.
Hanya kita yang sering mengingkarinya. Dengan penuh rasa takut untuk
mengakui perbuatan jahat yang pernah dilakukan, maka pintu untuk
bertobat akan semakin rapat kita tutupi sendiri. Mengapa takut dengan
diri sendiri, mengapa takut untuk memohon ampunanNya atas segala
dosa-dosa yang kita perbuat sendiri?
Itu
adalah sifat munafik yang umumnya terjadi karena cara berpikir yang
picik dan lebih mengutamakan keduniawian. Perkuatlah iman, sadarilah
dengan tulus keberadaanNya. Niscaya cahaya terang akan diberikanNya.
Pintu untuk keluar dari tabir gelap selalu terbuka dan akan tertutup
bila saatnya kita kembali kepadaNya. Pergunakanlah sisa waktu dalam
hidup kita untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya.
III.
MENYEPI DALAM DIRI, MEMASUKI ALAM “SUNYA”
MENYEPI DALAM DIRI, MEMASUKI ALAM “SUNYA”
Sewaktu
kita lahir keluar dari rahim Ibu, kita hanya sendiri dan telanjang.
Pada saatnya nanti kita dipanggil kembali kepadaNya, kita juga sendiri
dan telanjang. Tidak ada harta duniawi, kehormatan, pangkat, dan
lain-lainnya yang kita bawa. Hanya catatan karma selama hidup yang kita
bawa. Terlahir dalam sepi dan kembali juga sepi. Sudahkah kita siap
dengan kesepian itu? Mengapa kita tidak menyiapkan diri untuk memasuki
wilayah “Sepi” itu semasih kita punya kesadaran? Mengapa kita tidak
berusaha untuk melepaskan diri dari siklus “Sepi” itu?
Kita
tidak akan pernah berpikir untuk melepaskan diri dari siklus karma
selama kita tidak memegang teguh makna Mokhsartam Jagadhitam.
Kecenderungan untuk berpikir bahwa selama hidup berbuat baik dan
nantinya akan masuk sorga, selanjutnya bila terlahir kembali akan
mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena dihormati, cukup harta, dan
hal-hal duniawi lainnya.
Cara
berpikir ini tidak salah, akan tetapi belum lengkap untuk mencapai
tujuan hidup. Untuk melengkapinya tentu diperlukan usaha dan pengetahuan
spiritual yang cukup untuk pemahaman tentang Ketuhanan. Ini bukan suatu
hal yang muluk, setiap orang dapat melakukannya.
Sebagaimana
telah dipaparkan sebelumnya, dengan berlatih Tapa, Brata, dan Yoga
Semedi, kita dapat memasuki kondisi “Sepi/Sunya” dengan pendekatan diri
dan akhirnya menyatu dengan Brahman. Dengan latihan-latihan itu kita
akan siap untuk memasuki alam “SUNYA”. Dengan penguasaan Tapa, Brata,
dan Yoga Semedi kita terlatih untuk mengendalikan diri dan dapat
memposisikan diri dalam kondisi “Sepi” dalam kehidupan yang ramai dan
kondisi “ramai/bahagia” dalam kesendirian. Ini bukanlah suatu hal yang
tidak mungkin dilakukan. Dengan kesadaran spiritual yang cukup, kita
dapat mencapai hal itu. Semua kembali kepada diri kita sendiri, sejauh
mana kita mempunyai niat untuk berbuat yang lebih baik dan meningkatkan
diri sendiri dalam olah spiritual.
Ingatlah,
ajaran suci yang telah diturunkan lewat Wahyu Suci bukan hanya sekedar
untuk diketahui, dibaca, dibicarakan, dan dibahas. Ajaran Suci perlu
penghayatan yang mendalam dan pengamalan yang tanpa pamrih. Janganlah
menilai perbuatan orang, nilailah diri sendiri, karena perbuatan baik
tiada pernah habisnya untuk dilakukan selama hayat dikandung badan.
Instropeksi diri jauh lebih baik daripada menilai kesalahan orang lain.
Terbukalah terhadap diri sendiri, karena kata hati tidak pernah
mengkhianati. Keabadian ada dalam diri, keabadian ada didalam
Sepi/Sunya. Pada akhirnya kesanalah tujuan kita kembali.
Om Ḉanti Ḉanti Ḉanti Om
Pekanbaru, 06.47WIB, 26 Maret 2006
Penulis,
Ir. I Gusti Nengah Sutartha
bermastautin di Pekanbaru.






0 komentar:
Posting Komentar